Pancasila itu sediri beasal dan digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Istilah kata-kata Pancasila pada abad ke-14 telah dipai oleh pujangga Prapanca di dalam buku Negara Kertagama yang hidup pada zaman Keprabuan Majapahit. Istilah kata-kata Pancasila ini juga dipakai oleh Mpu Tantular, teman Prapanca di dalam bukunya Suta soma.
Perumusan Pancasila mempunyai sejarah yang cukup panjang. Surjanto Puspowardojo (1989) membagi perumusan Pancasila atas zaman prarevolusi, zaman revolusi antara tahun 1945-1950, pascarevolusi tahun 1950 dan seterusnya.
Sejak terjadinya pergerakan-pergerakan nasional melawan penjajahan dan munculnya putra-putri terbaik bangsa Indonesia seperti Boedi Oetomo, Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Din, dan lain-lain, sebenarnya nilai-nilai Pancasila secara pragmentaris telah dilaksanakan. Bangkit dan berkembangnya kesadaran idologi pemuda Indonesia pada tahun 1928, menghasilkan Sumpah Pemuda yang bertekad untuk mempersatukan tanah air, bangsa, dan bahasa. Sumpah Pemuda ini merupakan consensus nasional yang berfungsi sebagai pengintegrasi bangsa Indonesia, menuju konsensus nasional Pancasila.
BEBERAPA RUMUSAN PANCASILA
Rumusan Pancasila menurut Piagam Jakarta, tanggal 22 Juni 1945
Rumusan Pancasila menurut pidato Soekarno, tanggal 4 Juni 1945
1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2.Kemanusian yang adil dan beradap.
3.Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / keadilan.
5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
1.Kebangsaan Indonesia.
2.Internasionalisme atau perikemanusiaan.
3.Mufakat atau demokrasi.
4.Kesejahteraan sosial.
5.Ketuhanan yang berkebudayaan.
Rumusan Pancasila menurut pidato Moh. Yamin, tanggal 29 Mei 1945
Rumusan resmi Pancasila
1.Perikebangsaan.
2.Perikemanusiaan.
3.Periketuhanan.
4.Perikerakyatan.
5.Kesejahteraan rakyat.
1.Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.Kemanusian yang adil dan beradap.
3.Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / keadilan.
5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
BUTIR-BUTIR PENGAMALAN PANCASILA
1.SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
A.Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradap.
B.Hormat-menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
C.Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
D.Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
[Keyakinan akan Ketuhanan Yang Maha Esa]
2.SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAP
A.Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
B.Saling mencintai sesame manusia.
C.Mengembangkan sikap tenggang rasa.
D.Tidak semena-mena terhadap orang lain.
E.Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
F.Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
G.Berani membela kegiatan kemanusiaan.
H.Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
[Pembangunan untuk manusia]
3.SILA PERSATUAN INDONESIA
A.Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
B.Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara.
C.Cinta Tanah Air dan Bangsa.
D.Bangga sebagai bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
E.Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
[Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa]
4.SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT DAN KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
A.Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
B.Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
C.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
D.Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
E.Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
F.Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan nurani yang luhur.
G.Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjujung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
[Kekeluargaan, gotong-royong, musyawarah dan kedaulatan di tangang rakyat]
5.SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
A.Mengembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
B.Bersikap adil.
C.Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
D.Menghormati hak-hak orang lain.
E.Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
F.Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
G.Tidak bersifat boros.
H.Tidak bergaya hidup mewah.
I.Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
J.Suka bekerja keras.
K.Menghagai hasil karya orang lain.
L.Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
[Kemakmuran yang merata]
Sumber: Pelly, Usman dan Asih Menanti. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Genre puisi dalam sastra Jawa dibedakan atas puisi modern atau geguritan dan puisi tradisonal. Masing-masing terikat pada konvensinya.
Puisi tradisional terdiri atas kakawin, kidung, dan tembang. Kakawinmerupakan adaptasi dari bentuk puisi India yang terikat pada pola persajakan yang ketat. Sedangkan kidung, dantembangmerupakan puisi yang menganut pola persajakan Jawa asli. Kidung cenderung menggunakan bahasa Jawa pertengahan, dan tembang menggunakan bahasa Jawa Baru.
Tembang terikat oleh guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra. Keteriktan itu mencakup jenis tembang macapat, tengahan maupun gedhe. Ketiganya memanfaatkan simbol sandi asma ‘nama yang disandikan’ dan candrasangkala ‘petunjuk angka tahun yang disamarkan dengan kata-kata’.
a.Kelompok tembang macapat
Dhandhanggula (sakara, hartati)
Berwatak manis, lembut, dan menyenangkan. Tembang ini cocok untuk mengekspresikan perasaan yang menyenangkan, melahirkan ajaran yang baik, serta mengungkapkan rasa cinta kasih.
Sinom
Berwatak ceria, ramah, dan menyenangkan. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan rasa cinta kasih dan menyampaikan amanat / ajaran.
Asmaradana
Berwatak sedih. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan rasa rindu asmara dan merayu.
Durma
Berwatak keras, bergis, dan kasar. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan kemarahan, suasana peperangan, atau nasehat yang keras.
Pangkur
Berwatak memuncak. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan perasaan hati yang sungguh-sungguh, nasehat yang sungguh-sungguh, atau puncak dendam rindu asmara.
Mijil
Berwatak lancar. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan sesuatu nasihat, perasaan sedih, dan perasaan kasih yang sendu.
Kinanthi
Berwatak mesra. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan nasihat ringan, perasaan hati yang riang, dan cumbu rayu.
Maskumambang
Berwatak derita, prihatin, dan hiba. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan perasaan hati yang sedang duka, melahirkan tangisan hati atau keprihatinan.
Pucung
Berwatak santai. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan kesantaian, kejenakaan, dan menyampaikan nasihat yang bersifat ringan.
Gambuh
Berwatak akrab. Tembang ini cocok untuk menyampaikan nasihat yang sungguh-sungguh dalam lingkungan yang sudah akrab sehingga tidak ada lagi rasa ragu-ragu, serta untuk mengungkapkan perasaan apa adanya dengan nada agak santai.
Megatruh / Dudukwuluh
Berwatak sedu. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan rasa sedih / duka yang mendalam, penyesalan, dan kemeraan hati.
b.Kelompok tembang tengahan
Jurudemung
Bewatak ringan dan memuji. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan wacana yang bersifat ringan, hiasan, dan pujian.
Wirangrong
Berwatak sedih. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan kesedihan dan keharuan.
Balabak
Berwatak jenaka. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan pengenduran suasana setelah bergerak memuncak.
c.Kelompok tembang gedhe
Girisa
Berwatak penuh harapan. Tembang ini cocok untuk mengungkapkan suatu nasehat yang diharapkan benar-benar dipatuhi.
Watak-watak tembang tersebut membawa pengaruh yang cukup besar terhadap meteri yang diungkapkan dalam membangun suatu sosok keindahan sastra. Pilihan tembang yang kurang tepat dengan watak tembang dengan materi yang diungkapkan menjadikan tidak dapat membantu terwujudnya aspek estetika dalam tembang tersebut.
Sumber saka: Mardiyanto, Heri.dkk. 1996. Sastra Jawa Modern (Periode 1920 Sampai Perang Kemerdekaan). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kaca: 119-121.
Sepuluh laku Preseya supaya kita sregep anggone maca kanthi Luar Biasa.
1.Awit saiki aku temenanan niat la nana komitmen kanggo maca.
2.Awit dina iki aku kepengin ngasah lan najemake akalku kanthi temen-temen sinau lan golek ilmu. Aku kudu asring maca, kontinu.
3.Ora ana sing ora mungkin ing urip iki! Awit dina iki aku bakal terus ambudidaya apa sing takangen-angen lan cita-citakake kudu kasil, kanggo besuk dinaku kang luwih kepenak.
4.Aku kudu nemokake cara lan style sinau kepiye supaya bisa dadi wong sing maca kang Luar Biasa. Aku kudu bisa kasil nemokake!
5.Awit detik iki aku kudu bisa ngilangi sing adoh sifat kang aras-arasen males kanggo maca. Aku terus golek cara kang jitu supaya bisa seneng maca.
6.Awit wektu iki aku kudu bisa ndisiplinake awaku lan terus ambudidaya duwe planning agenda kanggo niti tangga kang sukses ngeti dhewe. Aku kudu ndisiplinake awaku kanggo maca.
7.Aku kudu nyiptakake program kang nyenengake kanggo anyengkuyung gerakan seneng maca.
8.Aku ora bakal nyerah lan pasrah karo apa-apa sing ngalangi aku kanggo bisa seneng lan ndisiplinake awaku karo wacanan.
9.Aku kudu kerep maca buku-buku sing bisa ndadekake aku tambah ilmu kang apik. Banjur aku njupuk hikmah lan pelajaran sing ana ing jerone.
10.Aku kudu iklas lan pasrahake sakabehane anggonku maca iki mung amarga Gusti Allah. Aku nyuwun supaya apa-apa sing takwaca iku bisa manfaati kanggo awaku lan wong liya.
Sumber saka: Lestari, Prembayun Miji. Bikin Kamu Tergila-gila Membaca. Yogyakarta: Book Magz, Kaca: 158-159